Blog dan Berita

Masyarakat Adat, sang ‘guru’ pembimbing dalam memulihkan hubungan antara alam dan manusia

Perempuan Riung Flores
© WWF-Indonesia/Cristina Eghenter

Oleh: Cristina Eghenter

Setiap tanggal 9 Agustus, kita merayakan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Tahun ini, acara tersebut memiliki makna mendalam karena saat ini seluruh dunia sedang berjuang melawan pandemi dan krisis kesehatan yang luar biasa. Krisis ini diperparah dengan krisis perubahan iklim serta krisis hilangnya keanekaragaman hayati akibat ulah kita sendiri oleh karena cara produksi dan konsumsi kita yang tidak bijaksana dan tidak adil.

Kita perlu memperbaiki hubungan kita yang rusak dengan alam untuk menjamin masa depan yang sehat dan berkelanjutan bagi kita dan generasi berikutnya. Meskipun demikian, untuk membangun kembali hubungan sosial dan ekonomi kita, kita membutuhkan ‘guru’ yang dapat membimbing kita dalam memulihkan hubungan yang lebih baik dan mutualis antara alam dan manusia. Masyarakat Adat dapat menjadi pembimbing pada saat yang kritis ini.

Tana Ulen Long Kemuat, Bahau Hulu, Kalimantan Utara
© Andris Salo

Kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting dari penjaga alam terkait hubungan dengan alam, pengetahuan tradisional, dan solidaritas yang memungkinkan mereka membangun komunitas dan kehidupan yang tangguh di wilayah mereka. Kita dapat belajar dari warisan budaya dan praktik Masyarakat Adat dimana mata pencaharian dan pemeliharaan wilayah menjadi satu dan diperkuat dalam tradisi budaya dan spiritual. Masyarakat Adat, laki-laki dan perempuan telah membuktikan hubungan yang lebih seimbang dan lebih sehat dengan alam. Mereka telah menunjukkan bahwa cara hidup alternatif dan berkelanjutan adalah sebuah hal yang tidak mustahil.

Selama Covid 19, komunitas Masyarakat Adat di beberapa daerah terpencil telah menghidupkan kembali praktik dan budidaya tradisional untuk melindungi pasokan makanan, termasuk mencari makanan dan obat-obatan herbal di hutan sebagai suplemen gizi. Mereka mengandalkan kerjasama dan pola saling membantu yang kuat. Sistem pangan tradisional telah menunjukkan ketahanan karena berakar pada ekologi lokal adaptasi, dan mempertahankan keanekaragaman.

Masyarakat Adat Dayak
© WWF-Indonesia/Jimmy Syahirsyah

Ketika kita belajar dari Masyarakat Adat untuk membangun ketahanan dan memulihkan hubungan dengan alam yang memungkinkan kita semua untuk hidup secara lestari, kita perlu memastikan agar Masyarakat Adat dihormati dan diakui, serta dikuatkan untuk terus mengelola wilayah adatnya, tanah leluhur mereka.

Ini adalah pelajaran penting untuk kita renungkan pada Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, saat kita merayakan dan berterima kasih kepada Masyarakat Adat atas perwalian wilayah mereka dan apa yang memberi dan menopang siklus kehidupan di Bumi.

Leave a Reply

WordPress Lightbox