Blog dan Berita

Menancapkan ‘Pangan Bijak’ Di Benak Masyarakat dan Menjadi Gaya Hidup

By February 16, 2022 No Comments

Mengajak masyarakat untuk melakukan pilihan yang bijak pada pangan mereka, baik untuk konsumsi maupun produksi bukanlah hal yang mudah. Meski banyak hal yang harus segera diperbaiki dalam sistem pangan kita, namun nampaknya membiasakan istilah ‘pangan bijak’ bisa jadi masih merupakan sebuah perjalanan panjang.

Sejatinya permintaan konsumen dapat mengendalikan apa yang akan diproduksi oleh kalangan produsen pangan. Dibutuhkan lebih banyak promosi – yang lebih masif dan konsisten untuk membangun perspektif dan mendorong aksi-aksi di masyarakat. Dalam hal ini peran media sangatlah penting dalam membantu penyadartahuan publik mengenai sistem pangan berkelanjutan melalui gerakan Pangan Bijak Nusantara.

Kata ‘bijak’ merangkum empat prinsip penting dari sistem pangan yang baik, yaitu lokal, sehat, adil dan lestari. Praktik dan produk pangan bijak dapat ditemui di banyak tempat di seantero nusantara, potensi ini perlu terus diangkat ke permukaan.

Sebagai contoh pangan bijak ada beberapa produk komunitas yang dianggap mewakili keempat prinsip tersebut, di antaranya minyak kelapa murni atau yang kerap disebut VCO yang diproduksi oleh masyarakat di pulau Nias, madu hutan dari Kalimantan Barat, kopi dari Toraja/Enrekang di Sulawesi Selatan, beras Adan Krayan dari Kalimantan Utara, garam krosok dari Jawa Tengah, sagu dari Sungai Tohor di Riau, dan gula aren dari Kolaka Sulawesi Tenggara.

Kesadaran Terhadap Sistem Pangan Semakin Menguat

Berkat peran dan keterlibatan media pula kesadaran bahwa sistem pangan saat ini sangat tidak berkelanjutan sudah semakin menguat di berbagai kalangan. Banyak cerita yang telah diangkat dari figur dan kelompok produsen komunitas serta masyarakat adat yang sejak lama menjalankan pola pangan bijak sebagai sebuah tradisi ataupun sistem pangan di tingkat lokal.

Berbagai inisiatif di tingkat masyarakat muncul sebagai respon keberpihakan pada konsep keberlanjutan dari sistem pangan seperti pertanian organik dan permakultur, pertanian perkotaan (urban farming), kebun komunitas, pasar komunitas, wisata pangan lokal dan semakin banyak pilihan pada produk pangan lokal.

Keberpihakan media pada prinsip pangan bijak (yaitu lokal, sehat, adil dan lestari) dan transformasi sistem pangan (yang etis dan berkelanjutan) dengan memasukkan prinsip pangan bijak dalam agenda pemberitaan terkait pangan nasional, kebijakan dan sistem pangan akan terus menancapkan pangan bijak sebagai top-of-mind, sesuatu yang klik di benak masyarakat dan bahkan menjadi gaya hidup secara berkelanjutan.

Peliputan Media ke Produsen Minyak Kelapa Murni di Nias

Pada bulan November 2021 beberapa media nasional diajak untuk mengunjungi pulau Nias di Sumatera Utara untuk melihat dari dekat proses produksi VCO yang dilakukan komunitas dampingan dari Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK). Liputan media berlokasi di tiga tempat yaitu Kota Gunungsitoli, Tugala Oyo dan pulau Hinako.

Bersiap berangkat kunjungan media ke pulau Hinako
Foto: (c) Hartaty/ASPPUK

Kepulauan Nias yang dikelilingi samudera Hindia merupakan daerah pesisir, sehingga sangat lumrah bila vegetasinya didominasi tumbuhan kelapa. Hal itu menjadikan kelapa sebagai sumber utama bahan baku pembuatan VCO yang kini sudah menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat lokal di sana.

Berliana Purba – Pesada Nias
Foto: (c) Hartaty/ASPPUK

Kunjungan memertemukan awak media dengan beberapa figur penting dari bisnis komunitas VCO Nias ini, di antaranya Berliana Purba dari LSM Pesada yang merupakan bagian dari jejaring ASPPUK di Nias. Berliana mendampingi kegiatan kunjungan mulai dari Kota Gunungsitoli, Pulau Hinako dan ke Tugala Oyo.

Di Kota Gunungsitoli, media bertemu dengan pasangan suami istri Bapak Eliakim Telaumbanua dan Ibu Murni Telaumbanua yang telah merasakan banyak manfaat kesehatan dari rutin mengonsumsi VCO. Mereka bukan sekedar konsumen, namun juga aktif mendukung kegiatan Pesada dalam menguatkan perempuan Nias dan pengembangan VCO sebagai sumber ekonomi rumah tangga.

Elisabeth Diana Supit dari konsorsium Pangan Bijak menyerahkan goodie bag Pangan Bijak kepada Bapak dan Ibu Telaumbanua di Gunungsitoli
Foto: (c) Hartaty/ASPPUK

Di Hinako dan Tugala Oyo, media bisa menyaksikan langsung proses produksi VCO rumahan oleh kelompok perempuan di desa, dan mewawancarai para ibu rumah tangga mengenai penghasilan tambahan yang mereka peroleh dari produksi VCO. Media juga dapat melihat para perempuan belajar mengenai pengelolaan ekonomi rumah tangga melalui pendampingan dan diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh Pesada saat berkunjung di Hinako dan Tugala Oyo.

Dengan skema koperasi credit union (CU) Pesada/ASPPUK membantu para perempuan untuk mendapatkan modal yang diperlukan untuk membangun bisnis produksi VCO. CU merupakan koperasi keuangan komunitas, yang menawarkan layanan menabung dan pinjaman. Untuk mengakses layanan tersebut, para perempuan dilatih literasi keuangan dan didampingi untuk dapat menabung secara rutin, berinvestasi dan memahami dasar-dasar menjalankan dan mengembangkan bisnis produksi VCO mereka.

Terus belajar membuat VCO sambil menjemur cengkeh
Foto: (c) Hartaty/ASPPUK

Peliputan Pangan Bijak VCO Nias ingin menunjukkan pangan bijak berperan penting bagi kesejahteraan produsen, perekonomian lokal, kesehatan individu dan kelestarian lingkungan. Upaya produksi pangan bijak semacam VCO Nias perlu direplikasi secara masif di nusantara agar menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu mengubah pola sistem pangan nasional dan global.

Baca juga liputan media berikut:

Bertahan Hidup dari Buah Kelapa Seharga Seribu Rupiah
Lewat VCO, perempuan di Nias mulai berdaya
Penggiat harapkan pemerintah dorong penguatan VCO di Nias
Memetik Manfaat dari Minyak Kelapa Murni
Perempuan desa terluar Hinako mulai bangkit berdaya dengan VCO
Cerita Perempuan Berdaya di Nias dengan Produksi Minyak Kelapa Murni
Ekonomi Perempuan Desa Terluar Hinako Mulai Bangkit Dari Hasil Olahan VCO

Leave a Reply

WordPress Lightbox