Blog dan Berita

Mendekatkan Pangan Lokal melalui Edukasi: Peluncuran dan Sosialisasi Buku Panduan Pangan Bijak

Oleh: Samantha A. Ramadhanti

“Tidak akan ada perubahan perilaku tanpa adanya perubahan yang terjadi dalam dunia Pendidikan,” ujar Bukik Setiawan, praktisi edukasi, dalam peluncuran Buku Panduan (LKS) Pangan Bijak pada 25 Januari 2022 lalu. Buku Panduan Pangan Bijak merupakan hasil kolaborasi antara Konsorsium Pangan Bijak Nusantara yang terdiri dari HIVOS, NTFP-EP, ASPPUK, AMAN dan Yayasan WWF Indonesia, dengan pendanaan dari EU SWITCH. Panduan pembelajaran LKS ini sengaja diciptakan sebagai salah satu media pembelajaran di sekolah jenjang SD kelas 4-6 hingga SMP kelas 1-2 untuk menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap produk-produk pangan lokal. Peluncuran LKS yang dimoderatori oleh Bukik Setiawan ini juga dihadiri oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, Perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Anindito Aditomo, Duta Pangan Bijak Nusantara yang merupakan ahli gizi dari Universitas Indonesia Dr. Rina Agustina, dan guru SDN Bogem 2 Sleman Anggi Rizka.

Melalui peluncuran LKS ini, Pak Anindito (Nino) memaparkan bahwa media belajar seperti LKS Pangan Bijak ini sangat sejalan dengan Kurikulum Prototipe (kedepannya akan disebut dengan Kurikulum Merdeka), dimana fasilitator edukasi mampu mengimplementasikan dasar-dasar bahan LKS dengan konteks lokal dan diintegrasikan dengan projek-projek yang mampu mengembangkan potensi dan kemampuan anak murid. Dalam sesi sharing, Dr. Rina Agustina dan Anggi Rizka sepakat bahwa LKS Pangan Bijak sangat mampu membantu mendekatkan konsep pangan lokal dengan anak murid, serta membuka interaksi antara anak dengan orang tua dan juga orang tua dengan guru. Selain itu, LKS Pangan Bijak yang dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran mampu meningkatkan karakter murid melalui berbagai praktek yang dilaksanakan, terutama terkait dengan rasa ingin tahu anak murid yang masih tinggi.

Setelah peluncuran LKS Pangan Bijak, dilaksanakan sosialisasi LKS Pangan Bijak ke jaringan sekolah, dengan dihadiri oleh guru, orang tua murid, dan juga siswa dari berbagai daerah pada 18 Februari 2022 lalu. Dipandu oleh Tim Yayasan Guru Belajar, sosialisasi berlangsung sangat baik, terlebih dengan terciptanya ruang diskusi antara guru, murid, serta orang tua murid. Sosialisasi diisi dengan simulasi implementasi LKS Pangan Bijak, diskusi, dan tanya jawab. Pada sesi simulasi yang dipimpin oleh Umi Kalsum dari Yayasan Guru Belajar, ditunjukkan bahwa implementasi dapat dilakukan salah satunya melalui metode storytelling. Misalnya ketika memaparkan materi mengenai madu, storytelling dapat bercerita mengenai konsumsi madu di rumah, jenis dan asal madu, hingga cara produksi madu. Salah satu murid, Raffa, menyatakan bahwa metode ini jauh lebih menarik untuknya yang kurang gemar membaca, jadi ketika guru menyampaikan materi dengan bercerita, murid akan tertarik mendengarkannya.

Dalam sesi sharing, banyak guru yang mengatakan bahwa mereka telah mampu mengintegrasikan bahan dari LKS ke dalam berbagai mata pelajaran, bahkan banyak juga yang ingin mengintegrasikannya sekaligus ke beberapa mata pelajaran, seperti Nurjanah yang telah melakukan praktik pembuatan bahan pangan dari singkong di pelajaran SBDP (Seni Budaya dan Prakarya) dan IPS, dimana anak murid mampu menghasilkan banyak variasi makanan dengan cerita yang beragam. Cerita unik lainnya adalah dari orang tua murid, Wastini, dimana di sekolah, anaknya melaksanakan kegiatan praktik membuat nasi kuning, dan dari pengalaman kegiatan praktik tersebut dapat menjadikan kemampuan tersebut menjadi sumber penghasilan anaknya hingga sekarang di kegiatan tertentu. Hal seperti ini tentunya yang diharapkan dari dijalankannya kurikulum yang mendukung kegiatan praktik, yang juga tentunya dapat didukung melalui media ajar seperti LKS Pangan Bijak.

Leave a Reply

WordPress Lightbox