Blog dan Berita

Mengubah Masa Depan Pangan Dengan Membuat Pilihan Bijak Hari Ini

Ada dua hal yang saling bertentangan bila kita bicara soal makanan atau pangan. Tidak semua orang dapat memeroleh makanan sehat dan bergizi yang mereka butuhkan untuk hidup yang lebih berkualitas. Sementara di negara-negara yang punya akses untuk pangan sehat dan bergizi, mereka malah memilih makanan yang tinggi kalori namun rendah nutrisi. Hanya enak di lidah tapi tidak enak untuk kesehatan.

Chef Ragil Imam Wibowo, Duta Pangan Bijak Nusantara, punya keprihatinan mendalam tentang hal ini. Untuk Hari Pangan Sedunia 2021 ia mengekspresikan,

Eat better not less, eat wisely without waste.”

Chef Ragil, Duta Pangan Bijak Nusantara

Menurutnya sangat penting orang mulai berkesadaran penuh dalam mengonsumsi makanan. Bukan sekedar mengurangi (atau menambah) jumlah, tetapi memilih apa yang baik untuk tubuh. Ia juga menganjurkan untuk mengonsumsi pangan secara bijak dan mengurangi limbah pangan.

Berkesadaran penuh sebagai konsumen pangan itu juga penting kalau dikaitkan dengan fenomena perubahan iklim. Amanda Katili Niode PhD, seorang pegiat, penatar dan pakar di bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim, yang juga adalah Duta Pangan Bijak Nusantara menggarisbawahi hubungan antara makanan dan iklim.

“Sistem pangan merupakan penyebab sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca pemicu perubahan iklim”

Amanda Katili Niode PhD, Duta Pangan Bijak Nusantara

Ia juga menambahkan bahwa sistem pangan itu berkontribusi terhadap punahnya 80 persen keanekaragaman hayati. Kondisi ini diperparah dengan adanya COVID-19.

Apa pesannya di Hari Pangan Sedunia 2021?

“Pahami sumberdaya yang digunakan untuk produksi makanan dan pilih makanan yang lebih ramah iklim!”
Click to Share

Memahami sumberdaya produksi pangan di antaranya lahan, bibit, teknologi dan produsen, akan membuat konsumen lebih peduli dampak konsumsinya pada perubahan iklim.

Konsumsi produk yang diperoleh secara lokal membantu mengurangi gas rumah kaca serta sumber daya yang digunakan dalam rantai pasokan makanan. Selain tentu dapat meningkatkan ekonomi suatu daerah, mendukung para petani, nelayan dan perimba.

“Makanan dapat menyebabkan masalah sekaligus juga merupakan solusi krisis iklim,” lanjut Amanda. Jadi, kita pilih mana? Pangan yang menyebabkan masalah iklim atau pangan yang bisa menjadi solusi krisis iklim? Pilihan ada di tangan kita.

Pilih Pangan Bijak Pangkal Masa Depan Indonesia

Pangan asli Indonesia menunjukkan identitas masyarakat: siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita akan bertahan di era perubahan iklim global dan di masa yang akan datang.

Dr. Saptarining Wulan, Duta Pangan Bijak Nusantara

Mewujudkan Indonesia berdaulat pangan membutuhkan masyarakat yang peduli terhadap kuliner lokal dan tradisional, yang dapat membantu melestarikan akar kuliner, seperti tanaman khas, resep dan budaya tempat masakan tersebut berasal. Pola pangan warisan nusantara yang banyak ragamnya adalah basis kuat untuk sistem pangan Indonesia masa depan.

Dari banyak ragam pangan asli Indonesia, salah satunya adalah sagu. Dulunya pernah menjadi sumber pangan utama seantero nusantara, namun kini melekat sebagai pangan khas daerah-daerah di Indonesia bagian timur. Dr. Saptarining Wulan, Duta Pangan Bijak Nusantara menyebut sagu sesungguhnya memiliki potensi besar sebagai solusi kedaulatan pangan.

“Sebagai sumber karbohidrat dari alam, sagu bisa dikembangkan untuk memenuhi cadangan pangan masyarakat. Sagu secara ekologis sangat cocok tumbuh di bumi Nusantara sehingga mendukung kelestarian lingkungan. Selain itu sagu merupakan pangan sehat.”

Masih banyak potensi pangan nusantara lainnya yang perlu kita gali dan kembangkan. Pangan bijak yang mengangkat nilai-nilai lokal, sehat, adil dan lestari adalah pangkal dari masa depan cerah pangan Indonesia.

Mewujudkannya dimulai dari menetapkan pilihan pangan secara bijak, mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan.

Selamat Hari Pangan Sedunia!

Leave a Reply

WordPress Lightbox