Blog dan Berita

Pangan Lokal sebagai Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Nasional

By June 16, 2020 June 25th, 2020 No Comments

Oleh: Arum Kinasih

Merayakan satu tahun diluncurkan kampanye publik Pangan Bijak Nusantara sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni, Konsorsium Pangan Bijak Nusantara menyelenggarakan diskusi dan webinar bertajuk “Pangan Lokal sebagai Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional”, Selasa (9/6) lalu.

Sesi diskusi diisi oleh sejumlah panelis dari berbagai latar belakang, mulai dari jurnalis, pegiat akademik, tokoh masyarakat adat, serta perwakilan Konsorsium Pangan Bijak Nusantara, yakni Dr. Marko Mahin dari Lembaga Studi Dayak-21, Kalimantan Tengah, Dr. Saptarining Wulan dari STP Trisakti dan merupakan Duta Pangan Bijak Nusantara, Ibu Dolvina Damus yang merupakan Tokoh Adat Perempuan dan Anggota DPRD Kab. Malinau, Kalimantan Utara, Ibu Tria Nuragustina dari Majalah Femina dan Ibu Cristina Eghenter serta Ibu Miranda dari Perwakilan Konsorsium Pangan Bijak Nusantara. Diskusi ini juga dimoderasi oleh Ahmad Arif, wartawan Kompas yang menulis Bijak Konsumsi Pangan Lokal pada peluncuran Kampanye Pangan Bijak tahun lalu.

Sistim pangan lokal, termasuk budidaya, jaminan akses ke hutan dan ekosistem lainnya, distribusi di tingkat lokal dan konsumsi terbukti mampu menjawab masalah ketahanan sumber pangan bagi masyarakat. Kata Pak Marko bahwa di tiga desa, yakni Desa Tumbang Lawang, Desa Dahyan Tunggal dan Desa Tewang Karangan di Sungai Katingan, Kalimantan Tengah, sebagian para penduduk desa tidak pernah membeli beras dari kota dan berbelanja di pasar yang ada di kota kabupaten. Desa tersebut ternyata memiliki 108 jenis padi beras dan 30 jenis ketan yang ditanam baik di ladang rawa, ladang bukit maupun di pinggir sungai. Disana juga terdapat daftar buah dan sayur-sayuran baik yang budidaya maupun non budidaya.

Kenyataannya, saat ini justru masyarakat adat yang telah memiliki dan mempertahankan tradisi pangan lokal yang mampu menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan di masa krisis pangan, Covid-19 dan bencana alam dan perubahan iklim. Dalam budaya modern, praktik pertanian tradisional selalu dipandang sebagai sesuatu yang primitif dan anti-kemajuan. Jika yang dikejar adalah produktivitas, tentunya praktik pertanian tradisional tidak akan mampu untuk memenuhi target tersebut. Namun, justru sistim produksi pangan secara tradisional yang lebih memperhatikan ketiga pilar sebuah sistim pangan, yaitu ekonomi (keadilan dan kesejahateraan petani), sosial (varietas lokal, benih, kearifan petani baik laki maupun perempuan), dan ekologi (ramah-lingkungan, alam menjadi bagian dari sistim pangan, pemanfaatan berkelanjutan), ujar Cristina Eghenter.

Kampanye Pangan Bijak Nusantara mempromosikan empat prinsip yakni, lokal, sehat, adil dan lestari dan konsep ‘pangan bijak’ dipilih karena ingin mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan dan etis. Pendekatan yang dilakukan adalah melalui sisi produksi, konsumsi, koordinasi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Tantangannya tentunya bagaimana dari sisi kampanye menemukan cara-cara inovatif supaya bisa memperkenalkan Pangan Bijak Nusantara ke khalayak yang lebih luas. Serta mensinergikan koordinasi dan kolaborasi antar lembaga agar menjadi lebih kuat. Dan yang terakhir tentunya agar petani bisa lebih menjadi mandiri setelah didampingi secara intensif oleh konsorsium.

Pandemi Covid-19 menjadi peringatan bagi manusia untuk merubah gaya hidupnya karena hubungan alam sudah mulai rusak. Mestinya kita bicara trasnformasi sistim pangan, ‘relokalisasi’ sistim produksi, distribusi dan konsumsi pangan, lanjut Cristina E. Inisiatif lokal, baik inistiatif masyarakat maupun pemerintah lokal terbukti bisa menjadi contoh implementasi sistim pangan yang lebih sehat, lokal dan mensejahterkan petani dan perempuan.

Hal ini yang disampaikan oleh Ibu Dolvina dengan pengalaman kebijakan beras lokal oleh pemerintah Kabupaten Malinau dan Pasar Inai. Tantangannya adalah bagaimana membawa pengalaman tingkat lokal pada tingkat nasional. Di sinilah gerakan para produsen, distributor, konsumen, petani, laki dan perempuan, komunitas adat menjadi penting, dan juga edukasi khusus dan penyadaran di kalangan urban dan milenial melalui pendekatan yang lebih populer dan tidak berhenti pada bentuk-bentuk seremonial. Sosial media sangat berperan besar untuk mengangkat isu ini dengan bahasa yang lebih mudah bagi kalangan menengah Indonesia yang berjumlah sekitar 40% dari total keseluruhan penduduk, hal ini ditekankan oleh Ibu Tria Nuragustina.

Perlu adanya usaha eksplisit untuk mempromosikan transformasi tata kelola sistem pangan dengan mengembalikan ke ekosistemnya secara ekologi (lestari, sehat), sosial (lokal) dan ekonomi (adil). Dengan demikian sistim pangan lokal bisa menjadi fondasi ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Leave a Reply

WordPress Lightbox