Blog dan Berita

Derma Dari Tanah Yang Sehat

“Hanya satu kali setahun kami menanam sawah dan panen, setelah itu kami biarkan tanah itu istirahat. Kami tidak mengganggu tanah dengan pupuk kimia. Kesuburan tanah kami berasal dari jerami padi dan kotoran kerbau yang digembalakan di sawah saat panen telah selesai.”

~ Ibu Nengsih

Bu Ester, Bu Agustina dan Bu Nengsih adalah tiga petani perempuan Dayak Lundayeh dari Krayan di Kalimantan Utara yang hadir di Festival Panen Raya Nusantara 2021. Mereka mengungkap alasan beras kebanggaan mereka bisa berkualitas super premium.

Selain tradisi, tentunya peran dan keterlibatan perempuan seperti ketiga ibu ini menjadi sangat penting dalam menjaga kesuburan, kesehatan tanah dan siklus produksi pangan untuk keamanan pangan dan kandungan nutrisi pangan yang baik.

Para petani di Krayan tidak tergoda untuk menambah frekuensi tanam menjadi dua atau tiga kali dalam setahun, karena mereka memercayai hasil panen terbaiklah yang akan diperoleh bila mereka memberi kesempatan bagi tanah untuk beristirahat. Dengan masyarakat menaati tradisi jeda tanam turun temurun itu, tanah mampu mengembalikan kondisinya menjadi siap tanam dan memberi hasil terbaik di tahun berikutnya.

Selepas masa panen, kerbau akan dibiarkan berkubang di sawah hingga tiba masa menanam berikutnya
Foto (c) Albert Teo

Beras Adan dibudidayakan dengan cara-cara tradisional dan alami oleh para petani Dataran Tinggi Krayan. Pola pertanian alami mereka padukan dengan peternakan kerbau, dan memanfaatkan air jernih dari gunung untuk irigasi persawahan.

Selamat Hari Tanah Sedunia!

Leave a Reply

WordPress Lightbox