Blog dan Berita

Terra Madre: Hak atas pangan yang baik, bersih dan adil

By December 22, 2020 No Comments
© Roberson

Ditengah masa pandemi Covid-19 dimana seluruh dunia berjuang untuk bertahan dan pulih, isu hak asasi manusia menjadi semakin relevan terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti yang tertulis di beberapa laporan ilmiah: IPBES, EAT-Lancet Commission (2019) dan juga Living Planet Report (2020) menyebutkan, produksi pangan global skala industrial dan menggunakan banyak input kimia menjadi salah satu faktor utama terhadap hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang saat ini terjadi.

Kondisi ini memicu kesadaran kritis dan mendorong berbagai kalangan termasuk produsen skala kecil, konsumen, chefs, mahasiswa dan anak muda untuk menghadirkan komunitas, gerakan dan inisiatif bersama guna meningkatkan kesadran dan kepedulian publik dan para pengambil keputusan terhadap perlunya perubahan pola produksi pangan agar lebih lokal, lestari, baik, adil, sehat dan bersih. Lihat: https://www.slowfood.com/

Salah satunya jaringan dan inisiatif yang mendunia adalah Slow Food (SF), Slow Food Internasional mengutamakan keyakinan bahwa setiap orang memiliki hak untuk makanan yang baik, bersih dan adil. Di antara inisiatif SF, Terra Madre sendiri merupakan sebuah program paling terkenal yang digagas oleh Slow Food untuk memberikan suara bagi produsen pangan skala kecil dan masyarakat adat.

© Terra Madre Indonesia

Bersamaan dengan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia yang jatuh pada 10 Desember 2020, beragam komunitas Slow Food di Indonesia yang tergabung dalam “Terra Madre Indonesia” (TMI) turut merayakan hari HAM dan Hari Terra Madre dalam sebuah konferensi pers daring (online) mengenai beberapa kegiatan dan inisiatif Slow Food di Indonesia.

Konferensi Pers dihadiri oleh perwakilan komunitas Slow Food di Indonesia Convivium Bali, Jakarta-Urban area dan Jogjakarta. Serta Presidia Madu Cingagoler di Banteng, Presidia Tengkawang Fat di Kalimantan Barat dan Presidia Pisang di Jogjakarta. Turut hadir juga Ibu Elena dari perwakilan Slow Food Internasional (Slow Food Regional Coordinator for Southeast Asia), media lokal dan umum.

Pada 2020 juga terbentuk Slow Food Community PARARA of Archipelago Jakarta dan Slow Food Community Kapuas Hulu serta yang akan datang adalah Slow Food Community Krayan.

Melalui kegiatan ini diharapkan adanya upaya untuk mengadvokasi kebijakan terkait pangan yang bersifat rehabilitatif serta mendorong aksi yang lebih sistematis dari para pelaku pasar untuk mendorong perubahan pola konsumsi yang lebih etis, serta memastikan terpenuhinya hak atas pangan yang baik, bersih dan adil dari hulu hingga hilir.

Leave a Reply

WordPress Lightbox