Blog dan Berita

Transformasi Sistem Pangan Membutuhkan Lebih Banyak Inklusi

By October 20, 2021 October 21st, 2021 No Comments

Ditulis oleh Miranda – HIVOS dan Cristina Eghenter – Anthropologist

Disadur dari artikel The Transformation of Food Systems Needs More Inclusion yang dimuat di https://www.thejakartapost.com/academia/2021/10/16/transformation-of-food-systems-needs-more-inclusion-.html

Foto © Ario Tranggono

KTT PBB untuk Sistem Pangan (United Nations Food Systems Summit/UNFSS) yang baru saja berlangsung dan forum lain yang diselenggarakan bersamaan yaitu KTT Masyarakat Global untuk Sistem Pangan (Global People Summit on Food Systems), memiliki tujuan dan maksud yang sama yaitu mengubah sistem pangan. Namun interpretasi narasi, lembaga, manfaat, nilai dan hak yang menjadi inti dari perubahan sistem pangan masih terbelah.

Ilmu pengetahuan telah lama mengecam dampak negatif produksi pangan terhadap alam. Masyarakat sudah lebih sadar bahwa produksi pangan global saat ini mengancam stabilitas iklim dan ketahanan ekosistem, serta memerdalam ketidaksetaraan. Mereka juga menyadari perlunya segera mengambil aksi/tindakan sekarang, dan bahwa tindakan semua orang diperhitungkan.

Land Clearing (C) WWF-Indonesia/Stephan Wulffraat
© WWF-Indonesia/Stephan Wulffraat

Jelas bahwa kita perlu mengatasi perbedaan ini dan bekerja sama dalam solusi jangka panjang untuk sistem pangan yang adil, berkelanjutan dan sehat untuk semua.

KTT ini patut dipuji karena telah menggerakkan berbagai aktor dalam sistem pangan mulai dari lokal hingga global secara besar-besaran dan memfasilitasi proses konsultasi yang panjang di berbagai tingkatan yang memuncak dengan Forum pada 23 September 2021. Ini menjadi pertanda baik bagi seruan untuk aksi pada Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2021:

“Tindakan Kita adalah Masa Depan Kita. Makanan yang Anda pilih dan cara Anda mengonsumsinya memengaruhi kesehatan kita dan bumi. Ini berdampak pada cara kerja sistem pertanian pangan. Jadi, Anda harus menjadi bagian dari perubahan.”

Pada KTT tersebut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menegaskan kembali komitmen pemerintah Indonesia untuk mendukung upaya bersama mewujudkan transformasi sistem pangan dengan juga menciptakan sistem pertanian pangan yang lebih inklusif, tangguh dan berkelanjutan serta mengakui peran petani skala kecil sebagai penjaga sistem pangan tradisional dan lokal.

Namun secara global banyak petani skala kecil, Masyarakat Adat, nelayan dan masyarakat perdesaan, laki-laki dan perempuan, yang merupakan produsen utama dan menopang mata pencaharian jutaan orang, merasa dikucilkan dari proses dan menganggap bahwa solusi mereka diabaikan demi kepentingan orang-orang dari perusahaan dan bisnis besar.

Mampukah kita mengubah sistem pangan global tanpa menyertakan mereka yang seharusnya menjadi pusat proses dan membantu mendorong cara-cara alternatif untuk menghasilkan pangan yang lebih berkelanjutan, lokal, dan adil?

Keragaman sistem pangan lokal yang dikembangkan dan dipraktikkan oleh masyarakat lokal dan masyarakat adat, laki-laki dan perempuan, telah terbukti tangguh dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia.

Foto © WWF-Indonesia/Victoria

Sistem pangan agar berkelanjutan harus inklusif dan memastikan bahwa kesetaraan dan hak terintegrasi di seluruh sistem pangan di sepanjang rantai nilai pangan, dan menghasilkan nilai dan manfaat bagi semua pelaku. Agar sistem pangan menjadi inklusif, perlu ada pengakuan, penghormatan dan dukungan kepada sistem pangan lain yang dikembangkan dan ditopang oleh pengetahuan, praktik, dan inovasi petani kecil, nelayan, penggembala, dan produsen pangan asli.

Contoh sistem pangan asli yang tangguh dan berkelanjutan berlimpah di banyak bagian Indonesia. Di Nusa Tenggara Timur, sorgum secara tradisional telah menjadi makanan pokok masyarakat lokal, tanaman ketahanan pangan dan kedaulatan pangan yang beradaptasi dengan baik dengan keadaan lingkungan setempat. Masyarakat menemukan kembali (rediscover) dan menanam kembali (replant) tanaman tradisional ini.

Di beberapa komunitas, seperti di kalangan Baduy dan Minangkabau, salah satu bentuk strategi penanggulangan adalah lumbung pangan dan kearifan lokal yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan di saat suka maupun duka.

Banyak lagi cerita tentang sistem pangan asli yang tangguh yang dapat diceritakan dari seluruh nusantara. Sistem pangan ini tangguh karena berasal dari wilayah mereka dan beradaptasi dengan kondisi budaya dan lingkungan setempat. Ketahanan dan vitalitas sistem pangan asli juga terkait erat dengan peran penting yang dimainkan perempuan dalam ekonomi pedesaan. Unsur ekologis yang ada dalam sistem pangan asli mendukung diet sehat dan bergizi yang juga memiliki kemampuan adaptasi iklim melalui konservasi benih dan varietas tanaman, termasuk memori ‘makanan yang terlupakan’ dan pengetahuan tentang makanan liar. Terlepas dari banyak bukti tentang kontribusi penting mereka terhadap ketahanan pangan, perempuan produsen pangan sering diabaikan oleh para pengambil keputusan dalam diskusi kebijakan seputar pangan.

Foto © Susiana/ Photovoice Intl – WWF/HoB

Mengubah sistem pangan menjadi lebih inklusif, adil, berkelanjutan dan sehat akan membutuhkan perubahan tata kelola dan relasi kekuasaan saat ini, dan menghubungkannya kembali dengan warisan alam dan budaya.

Kembali ke sistem pangan lokal akan mampu meningkatkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi produsen pangan di tingkat lokal melalui rantai pasokan yang lebih pendek, pasar petani/nelayan lokal dan Skema Penjaminan Partisipatif (Participatory Guarantee System – PGS), sebuah skema sertifikasi alternatif. Di masa krisis kesehatan, keanekaragaman hayati dan iklim seperti saat ini, bertindak lebih cepat dan dengan cara yang sesuai secara budaya adalah penting. Fokus pada sistem pangan lokal memungkinkan pemetaan kejadian genting dan rentan yang lebih akurat serta intervensi cepat untuk mengelola keadaan darurat pangan yang seringkali dapat diselesaikan secara lokal.

Foto © Dokumentasi AMAN

Tindakan Kita adalah Masa Depan Kita adalah seruan pada Hari Pangan Sedunia 2021.

Tindakan konsumen untuk membuat pilihan makanan yang berbeda dengan menemukan kembali tradisi kuliner dan produk lokal, mengadopsi gaya hidup yang lebih hijau dan lebih sehat; tindakan produsen untuk menggunakan praktik pertanian dan perikanan yang berkelanjutan secara lingkungan, sosial dan ekonomi; dan tindakan pengambil keputusan untuk menegakkan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan, mengamankan tanah, air, benih dan sumber daya lainnya bagi petani skala kecil dan Masyarakat Adat, dan secara efektif melibatkan mereka dalam penyusunan kebijakan tentang produksi pangan. Kebijakan perlu memertimbangkan keadaan yang beragam di setiap pulau dan provinsi, serta memberikan kredit dan teknologi tepat guna kepada produsen pangan, termasuk perempuan.

Terbaginya jalur menuju perubahan sistem pangan bukanlah pilihan. Semua tindakan yang akan dilakukan perlu terlebih dahulu didiskusikan dan disepakati di antara berbagai pemangku kepentingan dan pemegang hak, termasuk mereka yang paling dekat dengan produksi pangan. Solusi lokal oleh masyarakat adat, petani skala kecil dan nelayan yang telah berpengalaman mengamankan pangan selama berabad-abad merupakan bagian integral dari solusi bersama dan dapat membantu mengubah sistem pangan dan nilai-nilai yang menjadi dasarnya.

Sistem pangan lokal dapat menjadi ‘pengubah permainan’ dan berkontribusi tidak hanya pada tata kelola sumber daya, ketahanan pangan, dan kemandirian yang lebih adil, tetapi juga untuk mengurangi dampak bencana alam dan perubahan iklim demi masa depan yang sehat, berkelanjutan, dan adil bagi semua manusia dan planet ini.

Ditulis oleh Miranda (HIVOS – Project Local Harvest) dan Cristina Eghenter (Antropolog)

Leave a Reply

WordPress Lightbox